Sejak kutau bayang-bayang itu tak bisa kuraih, aku sudah lama menutup dan memaksa semua panca indraku tuk mengatakan tidak. Setiap bayang-bayang itu muncul ku paksakan mereka untuk diam menyuruh mereka untuk tuli dan buta akan rasa. Aku tanjabkan ranjau-ranjau di sekelilingnya agar mereka diam!!!! Ya, kuakui awal-awal tameng yang kupertahankan dan kubangun sekuat mungkin selalu runtuh. Semua panca indraku berteriak menghujat ranjau-ranjau yang kubuat. Aku lelah mempertahankan tameng ini, tapi di sisi lain aku tau bayang-bayang itu tak pernah bisa aku raih. Ingin kuhujam diriku sendiri, hujaman untuk kekalahan melawan kesabaran.
Tuhan, seandainya kubisa melihat contekan rencana-rencana untuk hidupku, sudah kususun tameng-tameng pertahanan di sekelilingku, atau mungkin tak kusia-siakan waktu tuk menanti bayangan itu kembali menghampiriku. Sampai hari ini, aku tak tau apa bayangan itu akan kuraih lagi, hanya engkau yang tau.
Kini bayangan itu mencoba mendekat, menawarkan sejuta asa. Aku kembali memaksa panca indra ku tuk diam, tapi lagi lagi semua gagal. Ingin rasanya kubuat mereka bungkam, diam sejenak. Arrrrrgghh lagi-lagi bayangan itu menghampiriku. Hari ini bayangan itu berbeda, tak ku lihat kesemuan semuanya nyata. Bahkan dia tersenyum menyambutku, sudah lama ku tak merasakan asa itu. Karena aku tau asa itu sekarang bukan miliku. Kutakpedulikan tameng ini menjerat panca indraku, aku senang menyambut bayangan itu, bahkan hari ini aku bisa membuat bayang-bayangmu menjadi nyata. Kemana saja kau bayang-bayang, tidak kau lihat siapa yang selalu berdiri menyambutmu, menerima kesemuanmu dengan keikhlasan.
Tuhan… aku ingin melihat contekan itu, sedikit saja. Aku ingin tahu apa bayang-bayang itu bisa kembali menjadi milikku. Karena hari ini aku bisa membuat dia nyata. Aku tak ingin menyiakan waktu, berdiri untuk menunggu bayang-bayang itu kembali menghampiriku. Tuhan… beri petunjuk itu buatku.
Doa seorang perempuan menunggu petunjuk.
Tuhan, seandainya kubisa melihat contekan rencana-rencana untuk hidupku, sudah kususun tameng-tameng pertahanan di sekelilingku, atau mungkin tak kusia-siakan waktu tuk menanti bayangan itu kembali menghampiriku. Sampai hari ini, aku tak tau apa bayangan itu akan kuraih lagi, hanya engkau yang tau.
Kini bayangan itu mencoba mendekat, menawarkan sejuta asa. Aku kembali memaksa panca indra ku tuk diam, tapi lagi lagi semua gagal. Ingin rasanya kubuat mereka bungkam, diam sejenak. Arrrrrgghh lagi-lagi bayangan itu menghampiriku. Hari ini bayangan itu berbeda, tak ku lihat kesemuan semuanya nyata. Bahkan dia tersenyum menyambutku, sudah lama ku tak merasakan asa itu. Karena aku tau asa itu sekarang bukan miliku. Kutakpedulikan tameng ini menjerat panca indraku, aku senang menyambut bayangan itu, bahkan hari ini aku bisa membuat bayang-bayangmu menjadi nyata. Kemana saja kau bayang-bayang, tidak kau lihat siapa yang selalu berdiri menyambutmu, menerima kesemuanmu dengan keikhlasan.
Tuhan… aku ingin melihat contekan itu, sedikit saja. Aku ingin tahu apa bayang-bayang itu bisa kembali menjadi milikku. Karena hari ini aku bisa membuat dia nyata. Aku tak ingin menyiakan waktu, berdiri untuk menunggu bayang-bayang itu kembali menghampiriku. Tuhan… beri petunjuk itu buatku.
Doa seorang perempuan menunggu petunjuk.







